Oleh : Hamdan Andank
Seperti
diungkapkan sejumlah komentar dalam antologi ini bahwa puisi-piusi di dalamnya
berkisah tentang; umpama, kenangan, penderitaan, kopi, kesetiaan, tuhan,
pengkhianatan, luka, penantian, cinta, harapan, dan lain sebagainya. Sebagai
pembaca saya juga dapat merasakan hal tersebut, meskipun saya tidak mengerti,
secara teoritis dari sudut pandang apa saya merasakannya.
Pemesanan buku antalogi puisi 9 pengakuan 'seuntai kidung Mahila' untuk sementara hanya melalui online...silahkan hub lewat FB atau Hub: 087841894689
Saya
juga tidak berani menempatkan puisi seseorang ke dalam aliran-aliran yang ada
dikenal dalam dunia sastra, karena saya yakin bahwa penulis dalam proses
penciptaan karyanya, tidak sedang berada dalam satu aliran sastra tertentu. Tidak
sedang bermaksud mengatasnamakan aliran sastra tertentu. Pembacalah yang
kemudian memenjarakan penulis ke dalam sebuah aliran. Pembaca atau kritikuslah
yang menuduh penulis menganut aliran tertentu; strukturalisme, idelisme,
realism, ekspresionisme, romantisme, dll.
Bagi
saya puisi adalah realitas, yakni realitas batin yang muncul dari kembara
imajinasi, kembara intuisi, lalu dinyatakan dalam bentuk tulisan. Kemampuan
kembara imajinasi dan intuisi sangat dalam jika tidak ingin disebut tinggi, dan
karena kedalamannya itu hingga kata-kata dan bahasa yang kita miliki sulit
menjangkaunya. Kata dan bahasa menjadi ruang kecil dan sangat terbatas untuk
dapat mengimbangi kedalaman kembara imajinasi dan intuisi.
Kata dan
bahasa yang ditulis, dirangkai menjadi bait-bait puisi, lalu dibaca oleh
pembaca yang memiliki kemampuan imajinasi dan intuisi sendiri-sendiri dalam
menyelami bait-bait puisi tadi. Penyelaman itu melahirkan realitas batin baru
yang berbeda dengan realitas batin penulis, melahirkan pengalaman batin baru
yang berbeda dengan pengalaman batin penulis.
Jadi
puisi sebagaimana karya-karya sastra atau karya seni lainnya, bagaikan ikan,
dapat menetaskan ribuan telur realitas batin yang beda satu dengan lainnya,
sebanyak jumlah pembacanya. Setiap realitas batin itu akan membentuk ruang
kembara imajinatif dan intuitifnya masing-masing pula, kemana saja.
Karenanya
dalam aroma kebebasan kembara itu, kelirulah kiranya jika saya sebagai pembaca hendak
menuduh sebuah karya cocoknya digolongkan ke dalam sebuah aliran tertentu. Karena
jarak antara pengalaman batin penulis dan pengalaman batin pembaca diantarai
oleh teks yang memiliki keterbatasan menjangkau pengalaman batin.
Oleh
karenanya saya hanya ingin mengemukakan sedikit pengalaman batin yang baru
dapat saya selami setelah membaca satu persatu “pengakuan” ini 3-4 kali. Saya
menemukan kekuatan yang mengantarkan kita untuk menemukan “Jalan Kembali” atau
“Jalan Pulang”. Ada banyak hal yang
dapat menuntun kita untuk menemukan “jalan pulang” itu. “Jalan” dalam tradisi
spiritual sesungguhnya berbentuk lingkaran, yang ketika kita memulai perjalanan
“pergi” , sesungguhnya secara bersamaan kita sedang memulai perjalanan
“kembali”. Ada beberapa unsure yang
mengantar kita secara tegas pada “jalan pulang” itu, misalnya; kampong halaman,
kenangan pada masa lalu, ibu, nenek, perjalanan, dll.
Puisi
Erni Aladjai dan Sri Rezkhi, terlihat sangat diboboti oleh kekuatan “kampung”
halaman. Istilah “kampung” sesungguhnya tidak sekedar wilayah territorial yang
selalu identik dengan keterbelakangan di era modern. Tetapi lebih dalam,
kampong adalah symbol asal-usul.
Hal ini
terlihat ketika Erni banyak menggunakan kata yang terkait dengan suasana laut
dan pesisir serta sejumlah istilah yang merepresentasikan kampong halaman
penulis.
…ia
menjahit jala setekun mungkin, serupa ia bersekutu dengan ikanikan…/kau
lihat teluk dengan airnya yang berpelangi…/semula
kuduga kau hanyalah dermaga/… aku ikan di kali dan kau mengail
berkalikali… [aku masih ikan; erni aladjai]
…sajak
perburuan ini menjadi agung bagi orang Lamalera
…
…Marilah
We!/Marilah pastor!/Naikkan doa kami ke atas langit/Semoga seguni abadi.
[Baleo : We; erni]
…Sasapatola adalah pengantar tidur
anakanaknya yang tak pernah merasa kenyang… [puasa ini terlalu panjang; erni]
…tiga
pekan sebelum pemakamanmu/… [120 Pi;
Erni]
…di
kampung
ini, tak pernah ada perempuan yang sehebat nenek
sejak
kematiannya, di kampung ini, tak ada
lagi pantun/… [kenang-kenangan nenek; erni]
punggungmu
adalah ladang untuk pulang/di sana musim tak menguning… [sesederhana kita;
erni]
…Matangkan
usia kami Tuhan!/Kami akan menurut/Tak akan menuntut kota datang di mata/kami
punya perahu dan pagi/pantai dan kuntul pulang
senja/… [mata ibu; erni]
Masih
terkait dengan “kampong” halaman, Sri Rezkhi menggambarkannya dengan hal lain,
yakni; kopi dan nenek. Kopi dan nenek mengingatkan pada asalmuasal. Bahkan kopi
dapat mengantarnya ke surga, tempat semua orang dambakan ketika “kembali”. Juga
beberapa kata yang menggambarkan suasana “perjalanan kembali” misalnya; masa
lalu, matiku, matahari remuk, tenggelam, pulang, rindu.
Kopikopi
itu berubah/cintaku pada nenek tidak berubah/cintaku pada pohonpohon kopi
di halaman rumahnya/dan cintaku pada segelas kopi hitam pekat/begitulah
abadi/mengingatkan aku pada asalmuasalku [mosi secangkir kopi;
rezkhi]
…pada
pintu rumah nenek saat kabut/di tanganku secangkir kopi toraja/di tanganku
aku menggenggam surga [sarira; rezkhi]
…bahwa
kita kehilangan semua tikungan, jalan aspal hitam, trotoar abuabu yang dulu, debudebu
berwarna coklat muda/aku kehilangan/masa lalu [hening; rezkhi]
…aku
tidak percaya kau akan membuat matiku tersiksa/aku ingin tersenyum
saat matahari
remuk/beradu dengan langit dan tenggelam sedikitsedikit [tentang
laut; rezkhi]
Pada
matamu selalu aku pulang melabuhkan resahku/seluruh penatku/… [satu selip puisi
cinta; rezkhi]
…dan
tidak ada… sakit parah yang menahun/kecuali rindu kronik [rindu kronik; rezkhi]
Dewi
Mudjiwa menggunakan kata seperti; kenangan, menua, menjumpai Tuhan, sepi yang
kudus, jiwa.
…lembar
kenangan
tersapu timbal/daundaun kelapa menua begitu pun cinta/…[janur patah
hati; dewi mudjiwa]
Kau
tidak pernah rasai –cemas dan bahagia-/hingga peluk yang dieratkannya/membuatmu
menjumpai
Tuhan [iga; dewi mudjiwa]
…kepada
bulir cahaya yang runtun/dan bisu yang sejuk/berlutut menyenandungkan sepi
yang kudus/o, jiwa!/ajari aku mencintaimu dengan
benar! [sepertiga; dewi mudjiwa]
Tiza
Fitrizia lebih menekankan “perjalanan” yang pergi sekaligus kembali
itu. Mungkin karena Fitrizia dalam kehidupannya mendalami persoalan-persoalan
‘travel and tourisme’ sebagaimana studi yang ia geluti terakhir.
Kilometer jualah yang menyandungku pada
rindu/…aku dijebak kenang setelah spion berhenti pada mataku sendiri/…dalam perjalanan
pulang/kita berkejar kabar/… [dalam perjalanan pulang; tiza fitrizia]
Dari
senin yang hujan, selimut membawaku padamu. Ke malammalam
dimana bibirmu adalah langit, tempat aku menggambar rumah
dengan mataku. Kita mencari-cari malaikat yang sama … [senin di
desember; tiza fitrizia]
Lingkaran
kecil di jari manisnya ada Tuhan/merah/bulat/samar/…
“Tuhan, kubawa Engkau kemanamana---/agar
sunyi tiada dan aku punya lawan bicara” …[perempuan bercincin Tuhan; tiza fitrizia]
Perjalanan ini baik/membolehkanku singgah
berkalikali hanya untuk menulis namamu dimanamana [pesan kereta; tiza
fitrizia]
Berbeda
dengan puisi-puisi diatas, Deasy Tirayoh, dengan “balada hati” yang cukup
singkat, sangat tepat ditempatkan pada bagian awal atau pembuka dari seluruh
puisinya dalam antologi ini. Balada hati semacam sebuah abstraksi yang
melingkupi keselurhan puisinya. Sehingga dengan dengan “balada hati”,
puisi-puisi Deasy mungkin tepat disebut “balada-romance”, ada kisah yang mengalir
dalam batinnya. Namun demikian, puisi Deasy juga masih cukup akrab dengan
“jalan” pergi dan pulang/kembali.
Sebab
telah kucintai/dirimu/dengan
cukup/sebelum/merelakanmu pergi
[balada
hati; deasy tirayoh]
Angin
masih/belum pulang/…layanglayang
putus/…jangan mengutuk/…cinta punya banyak rupa [layang-layang; deasy tirayoh]
Ada
cinta yang cukup dan ada kepergian, tapi bagaimana cinta yang cukup, cinta yang
tidak sangat itu, dapat melahirkan ketulusan atas kepergian? “kepergian” menyebabkan
“penantian yang meruah” sementara yang
dinanti belum pulang-pulang. Tapi itulah salah satu rupa cinta. Cinta banyak
rupa, seperti yang dimiliki sang perayu pada “secangkir purnama”.
Kapan
pulang?/kita timbun lagi
bijibiji/dengan cangkul kaca/…nay, datanglah sekali/kita tidur siang lagi/aku
tunggu di teras. [di teras dengan bunga-bunga; deasy tirayoh]
Nilam
Indahsari menyatakan perasaan, bahwa perasaan yang indah itu justru ketika hati
menjadi tempat bermainnya kesetiaan dan penghianatan.
…saat
jari manis kita ikatkan pada musimmusim/aku tahu sesekali hati kita bermain
muslihat/tawarkan rasa sungguh mawar, cipta debar/yang begitu melembabkan… [anomaly:
nilam indahsari]
…mungkin
ratusan narasi kehidupan/berisi tingkah iblis dan malaikat/seperti dalam diri
rahwana yang konon membuatnya dicinta oleh shinta/… [sebuah pengakuan; nilam
indahsari]
Hal
senada oleh Meiranti Kurniasih
Perempuan
itu kau!/Aku tak tahu kau menyulam dalam kelam/…
Kita
sempat bermain matahari bersama/tapi aku berhianat bermain air… [sajak
perempuan; merianti kurniasih]
…hanya
saja kita telah terlanjur/lebih dulu bersaudara di sementara/dari sekedar kenal
nama/
Pada
saban petang/belingbeling yang kau lempar/tepat menancap di hatiku/sekarang
kita lebih musuh/dank au tak pernah menyesal/… [remores; merianti kurniasih]
Amanda
Rizky Puspita tampak banyak bergelut dengan “waktu” yang berjalan dengan penataan yang ketat dari
kehidupan kota, hidup adalah waktu yang terjadwal;
…karena
setiap pertunjukan/punya batas waktu/krik/krik…
[pertunjukan; ar puspita]
Di
taman itu/suhu beku/duduk kau disebuah bangku/
Cemara
tiang, bamboo, kenari, dan rasamala/menabuh jarak antara ributnya asapasap
kota/dan lelahmu yang memohon jeda/
Aku
benci gaduh itu…/muak aku pada rantai mahal dunia riuh/hidup di malam remang bergudu/mati di siang yang lesu/…
Dalam
puisi “percakapan berbayar” , ar puspita bahkan memperlihatkan betapa waktu
yang sedikit harus dibayar bila ingin menggunakannya, meskipun hanya sekedar
untuk bertanya; ‘bagaimana kabarmu?’. Juga pada “7 pagi” mengejar 60 menit
yang memaku. Bahkan luka-luka harus
segera dirapikan. Dalam kehidupan kota, waktu tak pernah berdamai dengan cinta,
bahkan cinta harus tunduk pada jadwal-jadwal.
…musim
ini akan segera berlalu/kataku, sambil menggenggam tangannya/biarkan aku
pergi/dan kau akan menyimpan kristalkristal ini/sebagai tanda bukti…
Pada
puisi Nurul Nisa kesan romance juga terasa. Namun demikian membawa kita pada
banyak hal terkait dengan “asal-usul” tempat kita pergi dan kembali.
Panggil
aku hawa/aku mahluk yang memiliki langit
pada rahimku/tak ada yang tahu asalusulku… [panggil aku hawa, di lain
waktu; nurul nisa]
Tahukah
kau/kadang malam mendekap usang hidup orangorang di balik selimut/dengan kidung
kunangkunang/seperti Abraham/menemukan
Tuhan di waktu yang gelap/… [malam Abraham; nurul nisa]
Di
satu akhir /mereka datang membawa duka/dan tuhan masih dikantonginya/…”telah
ditasbihkan atasmu bersama orangorang kafir sebelummu”/mereka kembali menyalib
cadas dan kerikil dilehernya/Eli, Eli lama
sabakhtani/ Eli, Eli lama sabakhtani/ Eli, Eli lama sabakhtani/Eli…Eli…/… [di satu akhir dan tahun
yang berulang; nurul nisa]
Link Affiliate :
http://UangDownload.Com/join/2076.html
http://topfacebookbisnis.com/go/2195954.html
http://UangDownload.Com/join/48632.html
https://masterkey.masterweb.net/aff.php?aff=5879