Cafe Bisnis Online
News Update :

TERPOPULER

Tampilkan postingan dengan label Universitas Hasanuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Universitas Hasanuddin. Tampilkan semua postingan

Catatan : Uang masih utuh di saku jaketku. Oleh : Ahsan Azhar

Senin, 09 April 2012

Aku sedang berdiri di depan mini market, ada ibu pengemis duduk di emperan, dia menatapku, aku tidak kuat menatapnya. Sambil berjalan mondar-mandir, aku memikirkan berapa besar jumlah uang yang akan kuberikan kepadanya. Tangan kananku merogoh saku jaket sebelah kanan, menghitung lembar-lembar uang sisa kembalian makan malam tadi, sementara tangan kiriku menjepit rokok yang masih setengah batang lagi. Sesekali aku meliriknya, dia masih menatapku.

Aku membayangkan dia adalah ibuku, ibuku yang sedang menatap seorang yang tidak kuat untuk menatapnya namun sambil membayangkan dirinya adalah ibunya.
*
Aku berlalu pergi, setelah memberikannya beberapa lembar rasa kasihan.

Uang masih utuh di saku jaketku.

Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

REVIEW PENELITIAN : Analisis Karakteristik Reflektansi Spektral pada Ekosistem Mangrove Menggunakan Citra QuickBird di Dusun Binanga Sangkara Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Oleh : HABIL NOOR

Sabtu, 07 April 2012

ABSTRAK
HABIL NOORAnalisis Karakteristik Reflektansi Spektral pada Ekosistem Mangrove Menggunakan Citra QuickBird di Dusun Binanga Sangkara Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Dibimbing oleh Nurjannah Nurdin dan Amran Saru.
QuickBird merupakan salah satu sensor satelit penginderaan jauh yang mempunyai resolusi tinggi (2,44 m-2,88 m), dengan lima saluran (pankromatik, red, green, blue, dan near infra red). Hasil perekaman obyek pada sensor ini mengandung informasi yang dapat diolah melalui mekanisme interpretasi, sehingga mampu menjelaskan obyek yang telah diindera. Hasil interpretasi akan berbeda-beda, karena setiap obyek  mempunyai daya reflektansi yang berbeda. Pada ekosistem mangrove terdapat beragam obyek yang mempunyai karakter pantulan spektral yang berbeda.
Perbedaan energi elektromagnetik yang dipantulkan, diserap, dialirkan maupun dipancarkan oleh obyek sifatnya sangat bervariasi tergantung pada karakteristik obyek-obyek pada ekosistem tersebut. Pengolahan citra menggunakan software Er Mapper 7.0 untuk megeluarkan nilai digital yang kemudian dikonversi menjadi nilai radiansi dan nilai reflektansi. Sebelas kategori yang didapatkan pada hasil pengamatan vegetasi dari klasifikasi tidak terbimbing, kemudian dibuatkan pola reflektansi spetral tiap-tiap kategori. Sedangkan pengamatan ekosistem mangrove dengan menggunakan metode yang kemukakan oleh English, et, al (1994) untuk validasi data.
Saluran pada citra QuickBird yang paling dapat untuk membedakan masing-masing obyek atau kategori pada ekosistem mangrove adalah saluran merah  (654nm). Pada saluran merah (654nm) vegetasi tampak gelap, tanah cerah tampak kelabu cerah hingga cerah, air jernih yang dalam tampak gelap, dan air keruh cerah karena pantulan oleh material tersuspensinya yang nilai pantulannya menyerupai tanah atau batuan asalnya. Sedangkan pada saluran hijau (546,5nm), air tampak gelap sehingga mudah membedakannya terhadap tanah dan vegetasi, akan tetapi tanah tidak dapat dibedakan terhadap vegetasi karena beda pantulannya terlalu kecil.
Kata kunci : Citra QuickBird, Multispektral, Pantulan Spektral, Ekosistem Mangrove.

Gambar 10Hasil klasifikasi tak terbimbing.

Gambar 11. Hasil klasifikasi yang terdiri dari 11 kategori.

Gambar 12. Kategori Tutupan Ekosistem Mangrove.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Dusun Binanga Sangkara tentang karakteristik reflektansi spektral pada ekosistem mangrove dengan menggunakan citra QuickBird maka dapat disimpulkan :
1.      Nilai reflektansi spektral 11 jenis kategori menunjukkan hasil yang berbeda pada ekosistem mangrove.
2.      Hasil analisis pengelompokan reflektansi spektral menghasilkan enam kelompok kategori pada ekosistem mangrove berdasarkan kemiripan sifat kategori.
3.      Panjang gelombang merah (654 nm) merupakan panjang gelombang yang paling dapat membedakan atau mencirikan 11 jenis kategori ekosistem mangrove pada penelitian ini.

B. Saran

Perlu adanya penelitian lanjutan dengan mengukur langsung nilai reflektansi spektral  menggunakan spektroradiometer untuk observasi lapangan, sehingga akurasi interpretasi bisa lebih tinggi dalam penentuan panjang gelombang dari karakteristik tutupan ekosistem mangrove.
DAFTAR PUSTAKA
Amran, M.A., 1999. Karakteristik Pantulan Spektral Tumbuhan Mangrove pada Citra Digital Landsat TM: Studi Aplikasi Kasus di Kawsan Hutan Mangrove Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Thesis. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Anwar, J; J. Sengli; Damanik; N. Hisyam; A.S. Whitten., 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Arianto, E. 2008. Buku Panduan Dasar-Dasar Arc GIS. Comlabs.ITB
                                                       
Bengen, G.Dietrich. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB, Bogor.

Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta.

Darsidi, A. dan Liang.  D.H., 1982. Jalur Hijau Mangrove dalam Konteks Tata Guna Hutan Pantai.  Makalah Diskusi Panel Jalur Hijau Hutan Mangrove.  27 Februari – 1 Maret 1986.  Ciloto.

Dimyati, R.D. dan M. Dimyati., 1998. Remote Sensing dan Sistem Informasi Geografis Untuk Perencanaan. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah. Jakarta.

Dewi, K.T., Suhardjono, Sumosusastro, P.A., 1996.  Panduan Pengamatan Ekosistem Mangrove dalam Penyelidikan Geologi Wilayah Pantai.  Pusat Pengembangan Kelautan.  Bandung.

Digital Globe, 2007. Product Guide : QuickBird Imagery Products. Digital Globe
            Inc1601Dry Creek Drive Ste 260LongmontColorado80503.

Edwards. A.J., 1999. Applications of Satellite and Airborne Image Data to Coastal Management. UNESCO. Paris

English, S.C. Wilkinson & V. Baker (Eds). 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. ASEAN-Australia Marine Science Project. Australian Institute of Marine Science. Townsville.

Howard. J.H. 1996. Penginderaan Jauh Untuk Sumberdaya Hutan:Teori dan Aplikasi. Gajah Mada University Press. P.O.BOX 14, Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia.

Krause. K. 2003. Radiance Conversion of QuickBird. Digital GlobeColoradoUSA.

Kusumowidagdo, Mulyadi. Budi, tjaturrahano,. Bunowati, Eva. Liesnoor, Dwi. 2007. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Pusat data penginderaan jauh LAPAN dan Jurusan geografi. Universitas semarang

Lillesand, T.M; and R.W. Kiefer., 1997. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra (Alih Bahasa: Dulbahri, dkk). Gajah Mada  University Press. Yogyakarta.

Lo, C.P., 1996. Penginderaan Jauh Terapan. Terjemahan Bambang, P. Penerbit UI-Press. Jakarta.

Meaden, J.G., and M.J. Kapetsky., 1991. Geographical Information System and Remote Sensing In Inland Fisheries and Aquaculture. FAO. Fisheries Technical Paper. Italy.

Mulyadi, A.  1994.  Studi Hutan Mangrove ke Arah Pemanfaatan yang Rasional Bagi Pertambakan di Wilayah Pangkajene dan Kepulauan.  Skripsi Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan.  Universitas Hasanuddin.  Ujung Pandang.

Nontji, A., 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Nurkin, B. 1995. Laporan Hasil Penelitian Model Pengelolaan Hutan Bakau di Pantai Sinjai Timur. Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSL) Universitas Hasanuddin. Makassar.

Nybakken, 1988. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta

Prahasta, E. 2008. Remote Sensing : Praktis Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Digital dengan Perangkat Lunak Er Mapper. INFORMATIKA. Bandung.

Purwadhi, S.H., 2001.  Interpretasi Citra Digital.PT Grasindo,Jakarta.

Rehder, J. B., 1985, Classification and Enhancement of Image Data, In : Short Course on Remote Sensing for Civil Engineers and Planners, UNSW Centre for Remote Sensing, Sydney.

Supranto, J. 2004. Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi. Rineka Cipta. Jakarta.

Sutanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 2Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sutrisno, Dewayani. 2002. Fenomena Alam dan Perkembangan Teknologi Penginderaan Jauhdewayani@bakosurtanal.go.id. [Diakses tanggal 30 April 2008].

Walter, H., 1971. Ecology of Tropical and Sub Tropical Vegetation. Van Rostrand Reinhold Company. New York, Cincinnati, Toronto, London, and Melbourne.

Whitten, A.J., 1987. Ekologi Sulawesi. Penerbit Gajah Mada University Press.

Wiroatmodjo, P., 1995. IPTEK untuk Pengaturan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Prosiding Seminar V Ekosistem Mangrove. Panitia Program MAB Indonesia – LIPI. Jember.
RIWAYAT HIDUP 
Habil Noor, anak ketiga dari tiga bersaudara, diciptakan oleh Allah SWT melalui perantara Muhammad Noor dan St. Zaenab.B pada tanggal 21 Juni 1983. sebelum mencapai Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, penulis meluluskan pendidikan formalnya pada TK Idhata Desa Moncobalang, SDN Inp Karampuang Desa Moncobalang, SLTP Negeri 1 Sungguminasa, dan SMUN 1 Sungguminasa.  Pendidikan non formal yang didapatkan penulis selama ini lebih banyak didapatkan dalam sebuah keluarga yang menganut paham muhammadiyah. Tempaan yang paling banyak memberikan garis dan corak berfikir penulis lebih banyak didapatkan dari sebuah desa kecil tempat interaksi awalnya dengan hidup. Selama menjalani hidup bermahasiswa, penulis tidak pernah menjadi asisten pada mata kuliah yang disajikan dalam kurikulum ilmu kelautan. Dalam dunia kelembagaan penulis pernah berkecimpung dalam lika-liku organisasi kemahasiswaan, baik itu organisasi intra maupun ekstra kampus. Sampai saat ini penulis masih tergabung dalam sebuah lembaga swadaya masyarakat yang beralamat di BTN Asal Mula Blok B10/4 Tamalanrea. Penulis melakukan Praktek Kerja Lapang di Pulau Bonetambung Makassar. Sedangkan terakhir penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Singki Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Dilokasi itu selama dua bulan penulis berinterekasi dengan masyarakat yang selalu tersenyum dan sabar dalam melakukan kesehariannya di bentang alam yang kurang bersahabat.
No. Kontak : 081242380910
e-mail        : hblnoor@gmail.com
LINK AFFILIATE
Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

KESIMPULAN DAN SARAN PENELITIAN : Fenomena TATTO Dalam Masyarakat Urban, Oleh : Rony

Minggu, 01 April 2012

 Oleh :
Rony

Setiap zaman melahirkan generasi dengan ciri yang berbeda dengan zaman yang liannya. Begitu pula setiap manusia yang hidup pada satu zaman tertentu memiliki ciri khas tertentu pula untuk menandai zaman tersebut dalam kelompoknya masing-masing. Begitu pula dengan yang dikatakan oleh Foucault bahwa “setiap zaman memiliki keteraturan appriori pengetahuan sendiri-sendiri hingga menjadikan sebuah zaman memiliki karakter yang berbeda dengan zaman lainnya” (dalam Suyono, 2002: 150). Dengan perbedaan karakter tesebut kita dapat memahami dan menggambarkan setiap tahap perkembangan dari zaman-zaman yang telah berlalu. Di zaman ini setiap orang/individu memiliki kebebasan untuk menciptakan ciri atau warna hidupnya sendiri dan bukan lagi mengacu pada masing-masing kelompoknya. Mulai dari ciptaan dan kreasinya sendiri sampai pada peniruan dari orang yang di idolakan atau gaya hidup yang lagi trend bahkan sampai meniru apa yang dilakukan oleh orang yang diidolakan.

Itulah wujud ekspresi hidup dari setiap manusia yang ada pada saat ini. Ekspresi yang diwujudkan melalui segala sesuatu yang digunakan sampai pada kegiatan yang dilakukan untuk kehidupannya sehari-hari, mulai dari olah kata yang dikeluarkan dari mulutnya, tempat tinggal, makanan, dan pakaian yang dikenakan, sampai pada memperlakukan tubuhnya sendiri. Bentuk ekspresi yang dimunculkan tersebut, mengupayakan dirinya untuk meraih sebuah nilai yang dilemparkan oleh audiens (masyaralat luar) seperti nilai estetis (cantik, indah, gagah, dan sebagainya), begitu juga nilai-nilai lainnya yang ingin dicapai sehingga memunculkan pencitraan bagi dirinya sendiri.
Tato Merupakan Sebuah Ekspresi.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengaktualisasikan sebuah ekspresi, salah satu dengan menjadikan tubuh sebagai medianya. Jika hari ini kita memandang arti dari tubuh yang kita bawa ini, bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi, tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati, sesekali memang dapat rusak, tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki (Juliastuti : 1999). Kini tubuh tidak lagi hanya untuk dirawat ataupun dijaga agar tak terluka. Tubuh yang kita miliki sudah menjadi media untuk mengaktualisasikan hasil kreasi dari setiap ekspresi layaknya selembar kanvas yang digunakan oleh pelukis untuk dipolesi cat warna-warni sampai dengan sengaja untuk dilukai seperti pada saat membuat tato dan tindik (percing) dan banyak lagi perlakuan-perlakuan lain sehingga membentuk identitas pada dirinya sendiri.
Ekspresi inilah yang dimunculkan oleh tato pada tubuh, menjadikan tubuh sebagai media, dilukai dan diberi warna sampai menarik bagi pemilik tubuh tersebut. 

Perjalanan Tato di Indonesia
Sebagai sebuah bentuk dari ekspresi, tato juga merupakan sebuah karya seni yang tertua didunia. Dimana tato sudah dipraktikkan oleh beberapa suku didunia semenjak ribuan tahun yang lalu. Tato tato digunakan untuk penunjukan sebuah suku atau membedakan satu suku dengan suku lainnya dan status seseorang dalam kelompoknya. Tato juga dapat memberikan penjelasan kepada orang lain untuk melihat kedewasaan dan menunjukkan keahlia/pekerjaan bagi pemilik tato. Bagi masyarakat Mentawai, tato memilikiki banyak makna, tanda dan simbol (Pujileksono, 2006 : 160). Dari tato yang ditorehkan pada tubuh mereka, akan dengan mudah mengenali orang tersebut mulai dari status sosialnya, perkerjaan dan prestasi yang pernah ia peroleh.

Kalau dulu tato merupakan sebuah simbol budaya dari kelompok tertentu dengan proses ritual yang bersifat magis dan sakral, maka kini tato bukan lagi milik dari kelompok tertentu atau suatu penandaan dari budaya tertentu lagi, tato kini sudah menjadi konsumsi kalangan banyak yang tak lagi melalui proses ritualisasi dan memiliki nilai sakralitas.

Di Indonesia sejarah tentang tato juga pernah dikenal melalui Suku Mentawai, Suku Dayak dan Bali. Pembuatan tato pada zaman dahulu masih bersifat manual, menggunakan tulang binatang dan tintanya diambil dari getah tumbuh-tumbuhan atau kulit pohon dengan racikan khusus. Membuat tato tidaklah sesederhana dengan cara yang praktis (membuat begitu saja), membuat tato memerlukan ritual-ritual khusus atau melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang kebanyakan. Dikuil Shaolin Cina, menggunakan gentong besi yang panas dengan gambar naga dan macan disisinya kemudian di lekatkan pada pergelangan tangan sampai tercetak gambar pada kulit. Suku mentawai menggunakan jarum yang bertangkai jarum, kemudian dipukul degan pelan-pelang menggunakan kayu pemukul sehingga zat pewarna dapat masuk kedalam kulit. Zat pewarna yang digunakan merupakan campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa (Adi Rosa dalam Budiarti dkk, 2001). Kini membuat tato tak lagi menyakitkan dan tidak memerlukan ritual khusus, mesin pembuat tato yang ada saat ini parlor (studio/salon tempat untuk membuat tato) lebih memudahkan kita untuk memiliki tato sesuai dengan yang diinginkan.

Tato yang dikenal oleh masyarakat indonesia saat sudah mengalami beberapa fase perubahan sejak awal kehadirannya. Tato yang pada awalnya memiliki rilai religiusitas dan magis pada masyarakat tertentu dalam kelompok yang tertentu pula, kemudian ketika rezim Orde Baru berkuasa, tato dianggap identik dengan penjahat, gali yang dianggap dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Masa tersebut berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 80-an yang dikenal dengan PETRUS (penembakan misterius), dimana orang-orang yang memiliki tato dianggap sebagai penjahat yang mengacau dan mengganggu ketentraman masyarakat, mereka yang memiliki tato, dengan sengaja untuk ditembak sebagai treatmen atau tindakan tegas bagi mereka untuk mengkodusifkan keamanan masyarakat (Juliastuti, 2000). Setelah runtuhnya orde baru maka mulailah tato digunakan sebagai bentuk perlawanan. Anggapan negatif masyarakat dan larangan memakai tato atau merajah tubuh bagi beberapa ajaran agama bahwa tato itu haram dan dosa, maka dengan stigma seperti itulah pemberontakan mulai muncul untuk membebaskan diri terhadap tatanan nilai sosial, dari segala tabu yang mengikat setiap manusia. 

Setelah tato digunakan sebagai bentuk pemberontakan terhadap tatanan-tatanan sosial yang ada, ketika tato dianggap sebagai sesuatu yang buruk maka kini tato dianggap sebagai sesuatu yang modis dan trendi. Sudah banyak kalangan yang menggunakan tato tidak merasa risih ataupun malu, malahan sengaja untuk diperlihatkan kepada orang lain. Coba saja untuk berkunjung ke mall, club malam atau di ruang-ruang publik lainnya, anda akan mendapatkan orang-orang yang memakai tato dibagian-bagian tubuhnya yang sangat jelas kelihatan bahkan ada juga yang ditempatkan pada bagian tubuhnya yang sensitif tapi sedikit sengaja untuk diperlihatkan. Artis cantik Ratu Felisha, Rebecca Tumewu sampai komedian yang pernah bermain dalam acara Extrvaganza di Trans TV yaitu Tora Sudiro dan banyak lagi para selebriti dan entertainer lainnya yang muncul dilayar kaca mempertontonkan totto yang melekat ditubuhnya.
DAFTAR PUSTAKA

Pujileksono, Sugeng. 2006. “PETUALANGAN ANTROPOLOGI: Sebuah Pengantar Ilmu Antropologi”. UMM Press. Malang.
Suyono, Seno Joko. 2002. “TUBUH YANG RASIS: Telaah Kritis Michel Foucault Atas Dasar-Dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa”. Yogyakarta. Lanskap Zaman dan Pustaka Pelajar.

Internet :
Budiarti, Rita Triana, dkk. ”TATO, PERJALANAN PURBA ORNAMEN ABADI”. Gatra Nomor 20, Beredar Senin 2 April 2001], http://www.geocities.com/tattoosind/seni-tattoo.htm). Diakses pada tanggal 8 Januari 2009, pukul 14.02.
Juliastuti, Nuraini. 1999. “STUDI TUBUH”. http://kunci.or.id/esai/nws/01/studi _tubuh.htm. Termuat di newsletter KUNCI No. 1 Juli 1999. Diakses pada tanggal 8 Januari 2009, pukul 14.29.
___________. 2000. “TUBUH YANG MENDUA”. http://kunci.or.id/esai/nws/0607 /tubuh.htm. Termuat di newsletter KUNCI No. 6-7 Mei dan Juni 2000. Diakses pada tanggal 8 Januari 2009, pukul 14.22. 


LINK AFFILIATE


Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

HIMBAUAN : Kepada seluruh TNI & POLISI ; WASPADALAH...!!!

Senin, 26 Maret 2012

HIMBAUAN : Kepada seluruh TNI dan polisi untuk berhati-hati, kehadiran anda bukan untuk membinasakan rakyat Indonesia, akan tetapi menjaga dan melindungi segenap tumpah darah Indoensia. Kami Hanya Butuh SBY Turun, hanya itu........ Jangan ada saling bunuh di antara kita. Kami tak punya senjata namun semangat dan teriakkan kami bisa membunuh dan membinasakan kalian semua. 
Bersiagalah dengan HATI, jangan kau pake ototmu untuk melindungi rakyat yang secara langsung bakal kau anggap musuhmu....... Pakailah kesadaranmu, bahagiakanlah anak, istri dan keluargamu, mereka tidak akan bangga padamu jika ayah, suami dan sanak keluarganya adalah seorang pembunuh bayaran yang digaji pemerintah yang korup......
BERTANYALAH DALAM HATIMU : SBY SUDAH LAYAK UNTUK TURUN TAHTA...... Amin !!!
From : Syahnudin Syahden
Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

SYMPHONI RINDU SANG PELAUT; Sipakainga, Sipakalebbi na to Sipatokkong.

Sabtu, 17 Maret 2012



Rudy Syam
Pesta Panen Rakyat adalah suatu pesta yang diidamkan oleh seluruh rakyat termasuk Nelayan (Sang Pelaut), pesta panen adalah pesta pengungkapan rasa syukur dari rakyat kepada Tuhan karena telah diberi keberhasilan usaha setelah panen.

"Dalam pesta panen Nelayan mengundang keluarga, kerabat, pemimpin masyarakat pelaut, pedagang dan ponggawa serta bangsawan dimana pesta memberikan ruang-ruang tudang sipulung dalam menjalin silaturahim antara semua komponen masyarakat dengan niat mempererat tali persaudaraan tanpa kepentingan sesaat" 

Mereka melebur dalam satu baik orang tua, anak-anak, laki-laki ataupun perempuan dalam satu ikatan kelaurga dan kerabat yang merasakan betapa indahnya arti hidup persudaraan. Tapi cerita ini adalah kisah kejayaan dari nenek moyang kita yang dikenal sebagai Sang Pelaut (Sweet Memories).

Pesta Demokrasi Rakyat adalah pesta rakyat zaman modern yang sangat jauh dari Pesta Rakyat zaman nenek moyang, pestanya anak zaman modern, orang-orang mapan ataupun kaum elit yang mengatasnamakan rakyat. Pesta Demokrasi ini memang sangat jauh dari pesta panen yang mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan yang didapat sedangkan pesta zaman modern ini adalah pesta yang menentukan pemimpin, apakah akan membawa aspirasi dan kepentingan rakyat ? atau apakah aspirasi kaum mapan, elit ataupun berjuis? Selain itu Pesta Demokrasi ini adalah langkah awal dari suatu  perjuangan yang panjang, berbeda dengan pesta panen rakyat yang merupakan pesta dari hasil perjuangan yang panjang.

Warisan yang kehilangan ahli warisnya atau ahli waris yang kehilangan warisannya....?
Adalah sangat lucu ketika kita mewariskan sebuah oleh-oleh indah kepada anak cucu kita sebuah kotak yang sangat besar atau sebuah kolam yang sangat besar tetapi isinya segenggam pasir sekepal tangan ataupun seteguk air. 

Segenggam itu bak pasir yang semakin erat untuk dikepal semakin habis ataupun seteguk air asin yang ketika diminum maka semakin terasa kehausan. Maka dapat dibayangkan bagaimana jadinya anak cucu yang akan saling menjatuhkan, menyakiti, bahkan saling membunuh kasarnya menghalalkan segala cara untuk memiliki sesuatu. Sejarah akan berulang lagi seperti kejadian awal peradaban manusia antara persaingan Habil dan Qabil....

Padahal warisan yang diberikan oleh nenek moyang kita sangat banyak mulai dari kekayaan fisik dengan bentangan geografis yang siap untuk diolah ataupun warisan nilai sosial dengan  jiwa ramah tamah dan gotong royong, budaya yang beragam dengan seni yang mengagumkan. 

Pertanyaan muncul kemudian ’kemanakah warisan Kerajaan Majapahit ataupun Kerajanan Luwu ? kemanakah Warisan Patih Gajah Mada ataupun Jiwa dan Semangat Andi Djemma? jawabannya mungkin subjektif bagi saya yaitu dimakan oleh raksasa ketamakan dan keserakahan oleh anak zaman yang mengatas namakan kemoderenan dan didukung oleh orang-orang luar yang memfasilitasi ketamakan dan keserakahannya. 

Pendeknya mereka (nelayan) seolah-olah telah kehilangan hak untuk memanfaatkan (territorial use rights) dan hak secara turun temurun yang dimiliki (Indigenous use rights). Mereka telah dibuai dan dimanjakan dengan kesenangan semu tanpa tersadar mereka telah dirampok didepan mata sendiri.

Simphoni Kemiskinan Nelayan
Sangat menggelitik bagi saya, ketika saya membaca sebuah buku dengan tema ”Simponi Kemiskinan Nelayan” yang mengatakan  suatu simphoni masyarakat nelayan adalah simphoni yang terus bersenandung dihampir seluruh kawasan pesisir Indonesia meskipun pembangunan negara ini sudah berlangsung kurang lebih 67 tahun semakin keras dan bergema. 

Sangat menyedihkan kondisi saat ini yang notabenenya adalah zamannya anak modern, zamannya kemapanan tapi yang timbul adalah kesengsaraan yang ada disepanjang 81.000 km² pantai yang dipenuhi oleh sekitar 65 % manusia yang ada di Indonesia dengan tatapan dan sorotan mata yang mengandung simponi kemiskinan selama kurang lebih dari setengah abad dari babak keberadaan Indonesia.

Maka tepatlah dengan istilah yang sering dialamatkan dan disindirkan kepada mereka yang tidak tahu sama sekali. The Poorest Of The Poor, alias kelompok termiskin dari yang miskin. Mereka yang miskin ide, gagasan dan tindak aksi ekonomi. Mereka miskin informasi, pendidikan, pengetahuan, pelatihan-pelatihan, modal usaha serta kemampuan usaha. 

Selain itu mereka dalam lingkungan yang miskin dengan sarana, prasarana dan pranata sosial ekonomi yang merupakan prasyarat dan modal dasar bagi mereka untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai anak cucu dari seorang pelaut di zaman yang notabene diklaim sebagai zamannya kemoderenan. Selain itu mereka hidup dilingkungan i dont care (istilah zaman anak modern) yang miskin perhatian, simpati dan empati. Mereka hidup dalam kemiskinan dan terjebak dalam lingkaran  setan kemiskinan (Poverty vicious circle) yang ujung pangkalnya tidak jelas dan saling terkait sebab-musababnya.

Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan menghadapi Raksasa Globalisasi sehingga menciptakan ilegal product modernisasi. Kentalnya mementingkan kepentingan sendiri, dan pudarnya jiwa kekeluargaan dan kekerabatan adalah contoh kecil dari gilasannya. Menurut Rick Warren dengan konsep purpose driven memvonis Five Global Giants alias Lima Raksasa yang mempunyai kekuatan, kuasa dan pengaruh yang sangat besar. Lostness (ketersesatan), Lack of servant leaders (Pemimpin yang dilayani), Poverty (kemiskinan), Sickness (penyakit), dan Ignorance (kebodohan) adalah biang kerok ketidakberesan yang ada dimuka bumi ini. 
  
Simphoni Rindu Sang Pelaut
Maka sangat tepatlah untuk segera terbangun dari tidur nyenyak dengan nina bobo, untuk segera mengambil langkah dengan momen yang tepat di Pesta Demokrasi Rakyat  Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang sedang berjalan saat ini. Marilah kita sukseskan pesta ini karena sejatinya adalah pestanya rakyat untuk memilih pemimpin yang membawa aspirasi rakyat dan bukan pemimpin yang dilayani (Lack of servant Leaders) tetapi pemimpin yang melayani rakyat (The Real Leaders). Ingat ka le’...dan ingatki’ dengan janjita...!

Sewajarnya jika rakyat (Nelayan) merindukan suatu simphoni kerinduan sang pelaut yang telah lama tidak terngiang ditelinga mereka. Sumpah Palapa yang dikumandangkan dengan gagah oleh Mahapati Gaja Mada ”Saya tidak akan memakan buah kelapa sebelum wilayah ini kupersatukan dalam satu wilayah Nusantara Hasta Mandala Dwipa, semangat Jiwa dan Juang dari Andi Djemma yang terkonteks indah oleh para To Ciung ”Ma’ Bicara naparapi, Ma’ Binru Tepupi Napaja” ataupun petuah dari sang nenek moyang ”Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai”.

Masyarakat sekarang ini, utamanya para nelayan sangat merindukan suasana yang telah hilang, suatu kondisi jiwa dan semangat yang ada pada nenek moyang kita. Sikap dan tindak yang ramah tamah, kekeluargaan, kekerabatan, gotong royang serta jiwa persatuan dan kesatuan.

Kerinduan kedua adalah Pemimpin yang siap melayani masyarakat, mengutamakan kepentingan negara segagah dengan Mahapati Gaja Mada dan bekerja keras untuk rakyat seperti Raja Andi Djemma serta tokoh masyarakat, agama ataupun budayawan serta dari kaum akademisi yang bisa dijadikan panutan dalam bermasyarakat seperti tokoh To Ciung.

Bukankah dengan kesederhanaan dan ketradisonalan (menurut versi manusia modern saat ini) nenek moyang kita lebih sejahtera, lebih damai dan bahkan lebih mapan karena telah berhasil menyatukan rakyat yang lebih berbudi, bergotong royong dan saling menghargai dengan keberagaman, serta tanpa adanya  simphoni kemiskinan.

Jika dengan jiwa dan kearifan nenek moyang serta tetap berpegang kepada budaya serta didukung dengan ilmu dan perkembangan teknologi, saya yakin negara ini bisa kembali mendulang sejarah seperti apa yang telah dicapai oleh para nenek moyang kita sebagai seorang pelaut yang selalu Sipakainga, Sipakalebbi na to Sipatokkong.

Oleh: Rudy Syam
Mahasiswa Akhir Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
BTP Blok Ac No. 9 Makassar

Saat di temui Bung Rudy sedang menulis dilaptop ditemani kopi dan setumpuk buku-buku lingkungan, kelautan dan sosial, pandangannya fokus tertuju pada layar komputernya. Setelah di wawancarai ternyata beliau sedang mempersipakan pembuatan buku barunya yang memuat banyak fakta tentang kondisi pesisi dan laut yang ada di Indonesia.

Tulisan yang ada di depan pembaca sekarang adalah catatan tentang sebagian kecil dari riset yang beliau lakukan selama menempuh studi Pasca sarjana di Universitas Hasanuddin. Kita tunggu tulisan-tulisan beliau selanjutnya. Semoga bermanfaat untuk semua...Amin !!

Link Affiliate :
http://UangDownload.Com/join/2076.html
http://topfacebookbisnis.com/go/2195954.html

http://UangDownload.Com/join/48632.html

https://masterkey.masterweb.net/aff.php?aff=5879


Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

TERKOMENTARI

Cafe Bisnis Online
Amal Shaleh (3) Amanat Undang Undang Dasar (1) Antropologi (1) Arang Tempurung (1) Artis (1) Arumi Bachim (1) Azon Profit MAster (1) BBM (4) Beli Buku (1) Bisnis Potensial (1) Blogger (2) Buku Book (2) Cari Dolar (3) Cari Duit (3) Demonstrasi (8) ebook (2) Fakultas Hukum Unhas (1) Future Technologi (4) Gerakan Indonesia Mengajar (8) Gerakan Mahasiswa (10) Gerakan Pekerja dan Buruh (3) Gizi Buruk (3) Halte Kayu (1) Hamdan Andank (1) Home Shcooling (2) Indonesia Maju (8) Info Lomba (3) Istana Negara (1) Isu Seksi (2) Jalan Baru Islam (4) Jual Buku (1) Jual Buku Digital (1) Kelautan (6) Kesimpulan Buku (1) Kesimpulan dan Saran (5) Kiamat 2012 (2) Kick Andy (1) Kolaborasi (1) Komisi (1) Komoditi (1) Kondisi Masyarakat Pesisir (1) Krisis Pangan (3) Kursus (2) Lamun (1) Lowongan Kerja (1) Masa Depan Dunia (8) Masa Depan Indonesia (18) Masa Depan Kelautan (1) Masyarakat Nelayan (4) McDonald's (1) Membuat Affiliate (1) Mengajar (8) Mobil Esemka (1) Mobil Moko (1) Pariwisata (1) Pasca Sarjana (1) Pendidikan Hukum (2) Penduduk Dunia (2) Penduduk Indonesia (4) Penelitian (2) Penemuan (4) Pengajian Anak (1) Penggulingan Rezim (5) Penggulingan SBY (4) Penhasil Dolar (1) Penjarahan (1) Perairan Indoensia (3) Perikanan (1) Pertanian (1) Pesisir Indonesia (4) Peternakan (1) Rekomendasi (2) Reviw Penelitian (1) Riset dan Survey (4) Sanggar Pendidikan (2) Selebritis (1) Simpulan dan saran (2) Soeharto (1) Software (1) Software Canggih (1) Sosial Politik (1) Statistik (1) Strategi Pembangunan (8) Sulawesi Selatan (2) Teknologi Informatika (8) Teknologi Masa Depan (4) Teknologi Tinggi (7) Tentara dan Polisi (2) Tulisan (3) Universitas Hasanuddin (6) Universitas Se-Indonesia (7) Wakatobi (2)
 

© Copyright LediSYah.com 2010 -2011 | Design by Syahnudin Syahden | Published by Ledisyah Template | Powered by Blogger.com.