Cafe Bisnis Online
News Update :

TERPOPULER

Tampilkan postingan dengan label Pesisir Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesisir Indonesia. Tampilkan semua postingan

REVIEW PENELITIAN : Analisis Karakteristik Reflektansi Spektral pada Ekosistem Mangrove Menggunakan Citra QuickBird di Dusun Binanga Sangkara Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Oleh : HABIL NOOR

Sabtu, 07 April 2012

ABSTRAK
HABIL NOORAnalisis Karakteristik Reflektansi Spektral pada Ekosistem Mangrove Menggunakan Citra QuickBird di Dusun Binanga Sangkara Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Dibimbing oleh Nurjannah Nurdin dan Amran Saru.
QuickBird merupakan salah satu sensor satelit penginderaan jauh yang mempunyai resolusi tinggi (2,44 m-2,88 m), dengan lima saluran (pankromatik, red, green, blue, dan near infra red). Hasil perekaman obyek pada sensor ini mengandung informasi yang dapat diolah melalui mekanisme interpretasi, sehingga mampu menjelaskan obyek yang telah diindera. Hasil interpretasi akan berbeda-beda, karena setiap obyek  mempunyai daya reflektansi yang berbeda. Pada ekosistem mangrove terdapat beragam obyek yang mempunyai karakter pantulan spektral yang berbeda.
Perbedaan energi elektromagnetik yang dipantulkan, diserap, dialirkan maupun dipancarkan oleh obyek sifatnya sangat bervariasi tergantung pada karakteristik obyek-obyek pada ekosistem tersebut. Pengolahan citra menggunakan software Er Mapper 7.0 untuk megeluarkan nilai digital yang kemudian dikonversi menjadi nilai radiansi dan nilai reflektansi. Sebelas kategori yang didapatkan pada hasil pengamatan vegetasi dari klasifikasi tidak terbimbing, kemudian dibuatkan pola reflektansi spetral tiap-tiap kategori. Sedangkan pengamatan ekosistem mangrove dengan menggunakan metode yang kemukakan oleh English, et, al (1994) untuk validasi data.
Saluran pada citra QuickBird yang paling dapat untuk membedakan masing-masing obyek atau kategori pada ekosistem mangrove adalah saluran merah  (654nm). Pada saluran merah (654nm) vegetasi tampak gelap, tanah cerah tampak kelabu cerah hingga cerah, air jernih yang dalam tampak gelap, dan air keruh cerah karena pantulan oleh material tersuspensinya yang nilai pantulannya menyerupai tanah atau batuan asalnya. Sedangkan pada saluran hijau (546,5nm), air tampak gelap sehingga mudah membedakannya terhadap tanah dan vegetasi, akan tetapi tanah tidak dapat dibedakan terhadap vegetasi karena beda pantulannya terlalu kecil.
Kata kunci : Citra QuickBird, Multispektral, Pantulan Spektral, Ekosistem Mangrove.

Gambar 10Hasil klasifikasi tak terbimbing.

Gambar 11. Hasil klasifikasi yang terdiri dari 11 kategori.

Gambar 12. Kategori Tutupan Ekosistem Mangrove.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Dusun Binanga Sangkara tentang karakteristik reflektansi spektral pada ekosistem mangrove dengan menggunakan citra QuickBird maka dapat disimpulkan :
1.      Nilai reflektansi spektral 11 jenis kategori menunjukkan hasil yang berbeda pada ekosistem mangrove.
2.      Hasil analisis pengelompokan reflektansi spektral menghasilkan enam kelompok kategori pada ekosistem mangrove berdasarkan kemiripan sifat kategori.
3.      Panjang gelombang merah (654 nm) merupakan panjang gelombang yang paling dapat membedakan atau mencirikan 11 jenis kategori ekosistem mangrove pada penelitian ini.

B. Saran

Perlu adanya penelitian lanjutan dengan mengukur langsung nilai reflektansi spektral  menggunakan spektroradiometer untuk observasi lapangan, sehingga akurasi interpretasi bisa lebih tinggi dalam penentuan panjang gelombang dari karakteristik tutupan ekosistem mangrove.
DAFTAR PUSTAKA
Amran, M.A., 1999. Karakteristik Pantulan Spektral Tumbuhan Mangrove pada Citra Digital Landsat TM: Studi Aplikasi Kasus di Kawsan Hutan Mangrove Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Thesis. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Anwar, J; J. Sengli; Damanik; N. Hisyam; A.S. Whitten., 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Arianto, E. 2008. Buku Panduan Dasar-Dasar Arc GIS. Comlabs.ITB
                                                       
Bengen, G.Dietrich. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB, Bogor.

Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta.

Darsidi, A. dan Liang.  D.H., 1982. Jalur Hijau Mangrove dalam Konteks Tata Guna Hutan Pantai.  Makalah Diskusi Panel Jalur Hijau Hutan Mangrove.  27 Februari – 1 Maret 1986.  Ciloto.

Dimyati, R.D. dan M. Dimyati., 1998. Remote Sensing dan Sistem Informasi Geografis Untuk Perencanaan. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah. Jakarta.

Dewi, K.T., Suhardjono, Sumosusastro, P.A., 1996.  Panduan Pengamatan Ekosistem Mangrove dalam Penyelidikan Geologi Wilayah Pantai.  Pusat Pengembangan Kelautan.  Bandung.

Digital Globe, 2007. Product Guide : QuickBird Imagery Products. Digital Globe
            Inc1601Dry Creek Drive Ste 260LongmontColorado80503.

Edwards. A.J., 1999. Applications of Satellite and Airborne Image Data to Coastal Management. UNESCO. Paris

English, S.C. Wilkinson & V. Baker (Eds). 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. ASEAN-Australia Marine Science Project. Australian Institute of Marine Science. Townsville.

Howard. J.H. 1996. Penginderaan Jauh Untuk Sumberdaya Hutan:Teori dan Aplikasi. Gajah Mada University Press. P.O.BOX 14, Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia.

Krause. K. 2003. Radiance Conversion of QuickBird. Digital GlobeColoradoUSA.

Kusumowidagdo, Mulyadi. Budi, tjaturrahano,. Bunowati, Eva. Liesnoor, Dwi. 2007. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Pusat data penginderaan jauh LAPAN dan Jurusan geografi. Universitas semarang

Lillesand, T.M; and R.W. Kiefer., 1997. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra (Alih Bahasa: Dulbahri, dkk). Gajah Mada  University Press. Yogyakarta.

Lo, C.P., 1996. Penginderaan Jauh Terapan. Terjemahan Bambang, P. Penerbit UI-Press. Jakarta.

Meaden, J.G., and M.J. Kapetsky., 1991. Geographical Information System and Remote Sensing In Inland Fisheries and Aquaculture. FAO. Fisheries Technical Paper. Italy.

Mulyadi, A.  1994.  Studi Hutan Mangrove ke Arah Pemanfaatan yang Rasional Bagi Pertambakan di Wilayah Pangkajene dan Kepulauan.  Skripsi Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan.  Universitas Hasanuddin.  Ujung Pandang.

Nontji, A., 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Nurkin, B. 1995. Laporan Hasil Penelitian Model Pengelolaan Hutan Bakau di Pantai Sinjai Timur. Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSL) Universitas Hasanuddin. Makassar.

Nybakken, 1988. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta

Prahasta, E. 2008. Remote Sensing : Praktis Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Digital dengan Perangkat Lunak Er Mapper. INFORMATIKA. Bandung.

Purwadhi, S.H., 2001.  Interpretasi Citra Digital.PT Grasindo,Jakarta.

Rehder, J. B., 1985, Classification and Enhancement of Image Data, In : Short Course on Remote Sensing for Civil Engineers and Planners, UNSW Centre for Remote Sensing, Sydney.

Supranto, J. 2004. Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi. Rineka Cipta. Jakarta.

Sutanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 2Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sutrisno, Dewayani. 2002. Fenomena Alam dan Perkembangan Teknologi Penginderaan Jauhdewayani@bakosurtanal.go.id. [Diakses tanggal 30 April 2008].

Walter, H., 1971. Ecology of Tropical and Sub Tropical Vegetation. Van Rostrand Reinhold Company. New York, Cincinnati, Toronto, London, and Melbourne.

Whitten, A.J., 1987. Ekologi Sulawesi. Penerbit Gajah Mada University Press.

Wiroatmodjo, P., 1995. IPTEK untuk Pengaturan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Prosiding Seminar V Ekosistem Mangrove. Panitia Program MAB Indonesia – LIPI. Jember.
RIWAYAT HIDUP 
Habil Noor, anak ketiga dari tiga bersaudara, diciptakan oleh Allah SWT melalui perantara Muhammad Noor dan St. Zaenab.B pada tanggal 21 Juni 1983. sebelum mencapai Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, penulis meluluskan pendidikan formalnya pada TK Idhata Desa Moncobalang, SDN Inp Karampuang Desa Moncobalang, SLTP Negeri 1 Sungguminasa, dan SMUN 1 Sungguminasa.  Pendidikan non formal yang didapatkan penulis selama ini lebih banyak didapatkan dalam sebuah keluarga yang menganut paham muhammadiyah. Tempaan yang paling banyak memberikan garis dan corak berfikir penulis lebih banyak didapatkan dari sebuah desa kecil tempat interaksi awalnya dengan hidup. Selama menjalani hidup bermahasiswa, penulis tidak pernah menjadi asisten pada mata kuliah yang disajikan dalam kurikulum ilmu kelautan. Dalam dunia kelembagaan penulis pernah berkecimpung dalam lika-liku organisasi kemahasiswaan, baik itu organisasi intra maupun ekstra kampus. Sampai saat ini penulis masih tergabung dalam sebuah lembaga swadaya masyarakat yang beralamat di BTN Asal Mula Blok B10/4 Tamalanrea. Penulis melakukan Praktek Kerja Lapang di Pulau Bonetambung Makassar. Sedangkan terakhir penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Singki Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Dilokasi itu selama dua bulan penulis berinterekasi dengan masyarakat yang selalu tersenyum dan sabar dalam melakukan kesehariannya di bentang alam yang kurang bersahabat.
No. Kontak : 081242380910
e-mail        : hblnoor@gmail.com
LINK AFFILIATE
Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

INFO SELEBRITIS : Arumi Bachsin Bercumbu Ria dengan Masyarakat Wakatobi, yg lain ngiler !!!

Kamis, 22 Maret 2012

Gambar ini di ambil saat arumi dan teman artis prianya berkunjung ke Wakatobi beberapa waktu yang lalu. Keceriaan arumi tergambar saat berpose dengan masyarakat wakatobi sambil menikmati pemandangan pesisir pantai dan bentangan laut wakatobi, di temani dengan segarnya kelapa muda.

Arumi Bachsin lahir di Jakarta, 19 Februari 1994 adalah artis pendatang baru Indonesia yang cukup cepat melambung namanya. Putri pasangan Rudy Bachsin dan Maria Lilian Pesch ini tertarik pada dunia entertainment sejak keikutsertaannya pada dunia modelling sejak usia 12 tahun.

Arumi terlihat begitu ceria saat mandi bersama anak-anak di Wakatobi
Artis pecinta olahraga renang ini juga termasuk artis yang punya prestasi bagus di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SMP, ia masuk kelas akselerasi di SMP Tirta Buaran. Tetapi menginjak bangku SMA, artis penyuka makanan udang ini memilih homeschooling (sekolah rumah) untuk mengantisipasi jadwal syuting yang padat. 

Masyarakat Wakatobi menerima kedatangan Arumi dengan Senyum dan Tawa


Arumi menikmat segarnya air kelapa muda, pemberia masyarakat Wakatobi hingga membuat Artis Pria di sebelahnya ngiler.


Arumi berpose dengan salah satu penduduk wakatobi sekaligus sebagai salah satu aktivis lingkungan yang  bergerak dsalam bidang perlindungan dan pelestarian lingkungan di Wakatobi.
Bermain sampan denga anak-anak wakatobi, pria artis itu terlihat kekar, ada yang tahu siapa namanya ?
Arumi memulai karirnya di dunia entertainment dengan menjadi bintang iklan Kartu AS dari Telkomsel. Selanjutnya, jalan menuju bintang sinetron bagi artis yang pernah menjadi model produk kecantikan rambut Elith dan Miraton ini semakin terbuka lebar. Arumi yang bercita-cita menjadi psikolog ini mulai bermain dalam sinetron KAWIN MUDA, BUKAN CINDERELLA, AZIZAH dan CHELSEA. Artis indo keturunan Palembang-Belanda ini mencoba peruntungan di dunia film, dengan bermain di film BESTFRIEND pada tahun 2008.


Arumi semakin membuktikan kiprahnya di dunia entertainment. Ia melebarkan sayap di dunia presenter. Debutnya sebagai presenter saat membawakan acara musik HIP HIP HURA. Tak hanya presenter, Arumi kian mantap berkarir di dunia akting. Ia dipercaya jadi pemeran utama di film PUTIH ABU-ABU DAN SEPATU, yang merupakan debut perdananya di layar lebar. Tahun 2010, diawali Arumi yang laris sebagai bintang video klip ini dengan film keduanya. Ia berkesempatan bermain di film 18+ yang ditayangkan pada 26 Januari 2010.

Sumber :


Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

Kolaborasi Sistem Mungkinkah di Wakatobi?

Rabu, 21 Maret 2012

Oleh : Saharuddin Usmi
Komunitas Komunto Wakatobi

Perlunya Kolaborasi
Wakatobi adalah salah satu daerah yang memiliki 3 sistem berlaku terhadap pengelolaan sumber daya alam yakni; sistem Adat, sistem Pemerintah Daerah dan sistem Pemerintah Pusat melalui Taman Nasional. Seharusnya ketika memiliki tiga sistem ini maka peluang keberlanjutan sumber daya alam dan usaha masyarakat dalam pengelolaan sumber dayanya makin baik dari hari ke hari. Bagaimana dengan realitas yang di dapat?

Kini, dalam kawasan yang hanya memiliki 3% wilayah darat ini oleh negara melalui Departemen kehutanan telah mencaplok beberapa hutan Adat menjadi kawasan hutan lindung: Peraturan menteri Kehutanan RI nomor P.50/Menhut.II/2009 Tentang Penegasan Status dan Fungsi Kawasan Hutan, tanpa keterlibatan masyarakat adat dalam perencanaan dan penetapan kawan hutan tersebut dengan dasar PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

Bagaimana dengan Wakatobi?

Sejak tahun 2008 Upaya penegasan kepada pemerintah daerah dan taman nasional bahwa dalam kawasan ini juga ada sistem adat yang diberlakukan secara terus-menerus oleh masyarakat adat Liya. Dengan perihal tersebut diperlukan upaya penegasan apakah peran adat masih ada atau tidak ? 

Dari pengamatan sehari-hari tentang pemberlakuan sistem adat oleh masyarakat Liya, terdapat beberapa hal yang menyangkut urusan adat ini, pertama bagaimana peran adat menyelesaikan issue-issue masalah pengelolaan sumber daya alam, Kedua; Memberikan pengetahuan tentang sejarah kepemilikkan wilayah, Ketiga; Penelusuran jejak-jejak batas-batas wilayah oleh adat di masa lampau, dan Keempat; sumber daya apa saja yang dimiliki oleh adat guna menjalankan perannya secara baik?

Berdasarkan hasil penelusuran berdasarkan peta kehutanan telah  diperoleh informasi bahwa dalam wilayah adat masyarakat Liya telah dicaplok oleh negara sebagai kawasan hutan lindung termasuk Pulau Oroho. Informasi tersebut membuat masyarakat gelisah dipenuhi rasa kwatir jika itu diberlakukan, Sebab Oroho adalah wilayah yang diperuntukan oleh masyarakatnya sebagai lokasi lumbung makanan; lokasi perkebunan ubi kayu sebagian masyarakat Liya.

Bagaimana posisi Adat terkait issue Pengelolaan Sumber daya?

Meminjam kata-kata bijak dari orang-orang pandai “Indonesia ini ada karena Budaya tanpa, Budaya Indonesia ini tidak ada” bagaimana Indonesia hari ini ?
Adat atau budaya telah ada sebelum NKRI di proklamerkan pada tahun 1945. Artinya bahwa siapapun harus menghormati sistem adat yang telah berlangsung sejak turun temurun pada pada ruang hidup masyarakat termasuk sistem pengelolaan sumber daya alamnya. Sikap penghormatan atas budaya ini akan mengharmonisasikan hidup lebih baik sebab adab, norma, nilai adalah junjungan hidup sehari-hari.

Harmoniasasi hidup berbangsa dan bernegara akan berjalan manis jika sistem Adat diakui sebagai salah satu sistem yang patut dihormati. Oleh sebab itu dalam pandangan saya sebagai orang udik yang hanya memiliki kemampuan menelah; Daerah Wakatobi bisa langgeng jika 3 sistem ( sistem adat, sistem Pemerintah Otonom, dan Pemerintah Pusat melalui TNWnya) di kawasan ini mesti diberlakukan dengan memegang nilai dan prinsip saling menghormati di antara ketiganya. Hal ini dikarenakan sikap masyarakat hanya mengerti bahwa adatlah yang dipakai untuk menyelesaikan konflik pengelolaan sumber daya dan persoalan sosial lainnya.

Contohya ketika kata zonasi atau pelindungan dihembuskan, dalam kepala masyarakat itu adalah pembunuhan atau  tamate’ tapi jika dikatakan bahwa hal tersebut sama dengan Wehai di Liya "Karama" Sakito, dan Homali di Tomia, Motika dan Kaindea di Wangi-Wangi pada Umumnya serta Padangkuku, hal ini tidak membuat masyarakat kaget sebab pemahaman dalam bahasa adat tersebut telah ada didalam jiwa mereka.

Apakah “Kolaborasi Sistem” menurut pendangan Penulis?

Kolaborai sistem adalah bukan kerjasaman antara adat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam pengelolaan sumber daya alam tapi saling menghormati sistem yang telah ada dengan mengajak adat, pemerintah, dan pusat untuk duduk bersama-sama membicarakan apa yang hendak dibangun atau di adakan pada wilayah-wilayah (hak ulayat) adat.

Tidak main-main, mekanisme mencaplok sembarangan wilayah masyarakat bisa menimbulkan konflik horisontal-vertikal. Sedangkan secara geografis, wilayah daratah cukup kecil diikuti dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat  dari waktu ke waktu sebesar  0,2% per tahun,  maka memibicarakan tata kelola wilayah Kab. Wakatobi menjadi hal yang perlu ditangani serius secara adil dan bijak.

Dalam pandangan ini pula penulis ingin menegaskan point penting bahwa ” sebaiknya mari kita gunakan yang telah dimiliki adat, dan yang belum dilakukan oleh Adat silahkan pemerintah adakan dengan tetap mengajak adat sebagai salah satu bagian inti yang tidak bisa dikesampingkan. Harapan kita semua tentu wakatobi bisa menjadi wilayah kabupaten yang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri di mana semua pihak terlibat dalam pengejawantahannya. Semoga... Amin !!!

Catatan dari kami :
Saharuddin Usmi  adalah salah satu Crew Studio Rakom Talombo FM 106,5 Mhz. Radio Komunitas ini dibentuk untuk menjadi wadah yang memberikan ruang kepada 20 kelompok nelayan khususnya dan kepada masyarakat secara umum memiliki kepentingan dalam pengelolaan sumber daya laut di Pulau Tomia. Ruang ini memberikan kesempatan dan kedudukan yang sama kepada anggota untuk mengajukan ide dan gagasan dalam kerangka penyelesaian issue-issue yang dihadapi. Email dan Nomor kontak penulis (ardhalepa@yahoo.com) hp: 085696236610


Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

SYMPHONI RINDU SANG PELAUT; Sipakainga, Sipakalebbi na to Sipatokkong.

Sabtu, 17 Maret 2012



Rudy Syam
Pesta Panen Rakyat adalah suatu pesta yang diidamkan oleh seluruh rakyat termasuk Nelayan (Sang Pelaut), pesta panen adalah pesta pengungkapan rasa syukur dari rakyat kepada Tuhan karena telah diberi keberhasilan usaha setelah panen.

"Dalam pesta panen Nelayan mengundang keluarga, kerabat, pemimpin masyarakat pelaut, pedagang dan ponggawa serta bangsawan dimana pesta memberikan ruang-ruang tudang sipulung dalam menjalin silaturahim antara semua komponen masyarakat dengan niat mempererat tali persaudaraan tanpa kepentingan sesaat" 

Mereka melebur dalam satu baik orang tua, anak-anak, laki-laki ataupun perempuan dalam satu ikatan kelaurga dan kerabat yang merasakan betapa indahnya arti hidup persudaraan. Tapi cerita ini adalah kisah kejayaan dari nenek moyang kita yang dikenal sebagai Sang Pelaut (Sweet Memories).

Pesta Demokrasi Rakyat adalah pesta rakyat zaman modern yang sangat jauh dari Pesta Rakyat zaman nenek moyang, pestanya anak zaman modern, orang-orang mapan ataupun kaum elit yang mengatasnamakan rakyat. Pesta Demokrasi ini memang sangat jauh dari pesta panen yang mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan yang didapat sedangkan pesta zaman modern ini adalah pesta yang menentukan pemimpin, apakah akan membawa aspirasi dan kepentingan rakyat ? atau apakah aspirasi kaum mapan, elit ataupun berjuis? Selain itu Pesta Demokrasi ini adalah langkah awal dari suatu  perjuangan yang panjang, berbeda dengan pesta panen rakyat yang merupakan pesta dari hasil perjuangan yang panjang.

Warisan yang kehilangan ahli warisnya atau ahli waris yang kehilangan warisannya....?
Adalah sangat lucu ketika kita mewariskan sebuah oleh-oleh indah kepada anak cucu kita sebuah kotak yang sangat besar atau sebuah kolam yang sangat besar tetapi isinya segenggam pasir sekepal tangan ataupun seteguk air. 

Segenggam itu bak pasir yang semakin erat untuk dikepal semakin habis ataupun seteguk air asin yang ketika diminum maka semakin terasa kehausan. Maka dapat dibayangkan bagaimana jadinya anak cucu yang akan saling menjatuhkan, menyakiti, bahkan saling membunuh kasarnya menghalalkan segala cara untuk memiliki sesuatu. Sejarah akan berulang lagi seperti kejadian awal peradaban manusia antara persaingan Habil dan Qabil....

Padahal warisan yang diberikan oleh nenek moyang kita sangat banyak mulai dari kekayaan fisik dengan bentangan geografis yang siap untuk diolah ataupun warisan nilai sosial dengan  jiwa ramah tamah dan gotong royong, budaya yang beragam dengan seni yang mengagumkan. 

Pertanyaan muncul kemudian ’kemanakah warisan Kerajaan Majapahit ataupun Kerajanan Luwu ? kemanakah Warisan Patih Gajah Mada ataupun Jiwa dan Semangat Andi Djemma? jawabannya mungkin subjektif bagi saya yaitu dimakan oleh raksasa ketamakan dan keserakahan oleh anak zaman yang mengatas namakan kemoderenan dan didukung oleh orang-orang luar yang memfasilitasi ketamakan dan keserakahannya. 

Pendeknya mereka (nelayan) seolah-olah telah kehilangan hak untuk memanfaatkan (territorial use rights) dan hak secara turun temurun yang dimiliki (Indigenous use rights). Mereka telah dibuai dan dimanjakan dengan kesenangan semu tanpa tersadar mereka telah dirampok didepan mata sendiri.

Simphoni Kemiskinan Nelayan
Sangat menggelitik bagi saya, ketika saya membaca sebuah buku dengan tema ”Simponi Kemiskinan Nelayan” yang mengatakan  suatu simphoni masyarakat nelayan adalah simphoni yang terus bersenandung dihampir seluruh kawasan pesisir Indonesia meskipun pembangunan negara ini sudah berlangsung kurang lebih 67 tahun semakin keras dan bergema. 

Sangat menyedihkan kondisi saat ini yang notabenenya adalah zamannya anak modern, zamannya kemapanan tapi yang timbul adalah kesengsaraan yang ada disepanjang 81.000 km² pantai yang dipenuhi oleh sekitar 65 % manusia yang ada di Indonesia dengan tatapan dan sorotan mata yang mengandung simponi kemiskinan selama kurang lebih dari setengah abad dari babak keberadaan Indonesia.

Maka tepatlah dengan istilah yang sering dialamatkan dan disindirkan kepada mereka yang tidak tahu sama sekali. The Poorest Of The Poor, alias kelompok termiskin dari yang miskin. Mereka yang miskin ide, gagasan dan tindak aksi ekonomi. Mereka miskin informasi, pendidikan, pengetahuan, pelatihan-pelatihan, modal usaha serta kemampuan usaha. 

Selain itu mereka dalam lingkungan yang miskin dengan sarana, prasarana dan pranata sosial ekonomi yang merupakan prasyarat dan modal dasar bagi mereka untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai anak cucu dari seorang pelaut di zaman yang notabene diklaim sebagai zamannya kemoderenan. Selain itu mereka hidup dilingkungan i dont care (istilah zaman anak modern) yang miskin perhatian, simpati dan empati. Mereka hidup dalam kemiskinan dan terjebak dalam lingkaran  setan kemiskinan (Poverty vicious circle) yang ujung pangkalnya tidak jelas dan saling terkait sebab-musababnya.

Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan menghadapi Raksasa Globalisasi sehingga menciptakan ilegal product modernisasi. Kentalnya mementingkan kepentingan sendiri, dan pudarnya jiwa kekeluargaan dan kekerabatan adalah contoh kecil dari gilasannya. Menurut Rick Warren dengan konsep purpose driven memvonis Five Global Giants alias Lima Raksasa yang mempunyai kekuatan, kuasa dan pengaruh yang sangat besar. Lostness (ketersesatan), Lack of servant leaders (Pemimpin yang dilayani), Poverty (kemiskinan), Sickness (penyakit), dan Ignorance (kebodohan) adalah biang kerok ketidakberesan yang ada dimuka bumi ini. 
  
Simphoni Rindu Sang Pelaut
Maka sangat tepatlah untuk segera terbangun dari tidur nyenyak dengan nina bobo, untuk segera mengambil langkah dengan momen yang tepat di Pesta Demokrasi Rakyat  Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang sedang berjalan saat ini. Marilah kita sukseskan pesta ini karena sejatinya adalah pestanya rakyat untuk memilih pemimpin yang membawa aspirasi rakyat dan bukan pemimpin yang dilayani (Lack of servant Leaders) tetapi pemimpin yang melayani rakyat (The Real Leaders). Ingat ka le’...dan ingatki’ dengan janjita...!

Sewajarnya jika rakyat (Nelayan) merindukan suatu simphoni kerinduan sang pelaut yang telah lama tidak terngiang ditelinga mereka. Sumpah Palapa yang dikumandangkan dengan gagah oleh Mahapati Gaja Mada ”Saya tidak akan memakan buah kelapa sebelum wilayah ini kupersatukan dalam satu wilayah Nusantara Hasta Mandala Dwipa, semangat Jiwa dan Juang dari Andi Djemma yang terkonteks indah oleh para To Ciung ”Ma’ Bicara naparapi, Ma’ Binru Tepupi Napaja” ataupun petuah dari sang nenek moyang ”Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai”.

Masyarakat sekarang ini, utamanya para nelayan sangat merindukan suasana yang telah hilang, suatu kondisi jiwa dan semangat yang ada pada nenek moyang kita. Sikap dan tindak yang ramah tamah, kekeluargaan, kekerabatan, gotong royang serta jiwa persatuan dan kesatuan.

Kerinduan kedua adalah Pemimpin yang siap melayani masyarakat, mengutamakan kepentingan negara segagah dengan Mahapati Gaja Mada dan bekerja keras untuk rakyat seperti Raja Andi Djemma serta tokoh masyarakat, agama ataupun budayawan serta dari kaum akademisi yang bisa dijadikan panutan dalam bermasyarakat seperti tokoh To Ciung.

Bukankah dengan kesederhanaan dan ketradisonalan (menurut versi manusia modern saat ini) nenek moyang kita lebih sejahtera, lebih damai dan bahkan lebih mapan karena telah berhasil menyatukan rakyat yang lebih berbudi, bergotong royong dan saling menghargai dengan keberagaman, serta tanpa adanya  simphoni kemiskinan.

Jika dengan jiwa dan kearifan nenek moyang serta tetap berpegang kepada budaya serta didukung dengan ilmu dan perkembangan teknologi, saya yakin negara ini bisa kembali mendulang sejarah seperti apa yang telah dicapai oleh para nenek moyang kita sebagai seorang pelaut yang selalu Sipakainga, Sipakalebbi na to Sipatokkong.

Oleh: Rudy Syam
Mahasiswa Akhir Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
BTP Blok Ac No. 9 Makassar

Saat di temui Bung Rudy sedang menulis dilaptop ditemani kopi dan setumpuk buku-buku lingkungan, kelautan dan sosial, pandangannya fokus tertuju pada layar komputernya. Setelah di wawancarai ternyata beliau sedang mempersipakan pembuatan buku barunya yang memuat banyak fakta tentang kondisi pesisi dan laut yang ada di Indonesia.

Tulisan yang ada di depan pembaca sekarang adalah catatan tentang sebagian kecil dari riset yang beliau lakukan selama menempuh studi Pasca sarjana di Universitas Hasanuddin. Kita tunggu tulisan-tulisan beliau selanjutnya. Semoga bermanfaat untuk semua...Amin !!

Link Affiliate :
http://UangDownload.Com/join/2076.html
http://topfacebookbisnis.com/go/2195954.html

http://UangDownload.Com/join/48632.html

https://masterkey.masterweb.net/aff.php?aff=5879


Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online Lowongan kerja buat facebookers Cafe Bisnis Online Cafe Bisnis Online

TERKOMENTARI

Cafe Bisnis Online
Amal Shaleh (3) Amanat Undang Undang Dasar (1) Antropologi (1) Arang Tempurung (1) Artis (1) Arumi Bachim (1) Azon Profit MAster (1) BBM (4) Beli Buku (1) Bisnis Potensial (1) Blogger (2) Buku Book (2) Cari Dolar (3) Cari Duit (3) Demonstrasi (8) ebook (2) Fakultas Hukum Unhas (1) Future Technologi (4) Gerakan Indonesia Mengajar (8) Gerakan Mahasiswa (10) Gerakan Pekerja dan Buruh (3) Gizi Buruk (3) Halte Kayu (1) Hamdan Andank (1) Home Shcooling (2) Indonesia Maju (8) Info Lomba (3) Istana Negara (1) Isu Seksi (2) Jalan Baru Islam (4) Jual Buku (1) Jual Buku Digital (1) Kelautan (6) Kesimpulan Buku (1) Kesimpulan dan Saran (5) Kiamat 2012 (2) Kick Andy (1) Kolaborasi (1) Komisi (1) Komoditi (1) Kondisi Masyarakat Pesisir (1) Krisis Pangan (3) Kursus (2) Lamun (1) Lowongan Kerja (1) Masa Depan Dunia (8) Masa Depan Indonesia (18) Masa Depan Kelautan (1) Masyarakat Nelayan (4) McDonald's (1) Membuat Affiliate (1) Mengajar (8) Mobil Esemka (1) Mobil Moko (1) Pariwisata (1) Pasca Sarjana (1) Pendidikan Hukum (2) Penduduk Dunia (2) Penduduk Indonesia (4) Penelitian (2) Penemuan (4) Pengajian Anak (1) Penggulingan Rezim (5) Penggulingan SBY (4) Penhasil Dolar (1) Penjarahan (1) Perairan Indoensia (3) Perikanan (1) Pertanian (1) Pesisir Indonesia (4) Peternakan (1) Rekomendasi (2) Reviw Penelitian (1) Riset dan Survey (4) Sanggar Pendidikan (2) Selebritis (1) Simpulan dan saran (2) Soeharto (1) Software (1) Software Canggih (1) Sosial Politik (1) Statistik (1) Strategi Pembangunan (8) Sulawesi Selatan (2) Teknologi Informatika (8) Teknologi Masa Depan (4) Teknologi Tinggi (7) Tentara dan Polisi (2) Tulisan (3) Universitas Hasanuddin (6) Universitas Se-Indonesia (7) Wakatobi (2)
 

© Copyright LediSYah.com 2010 -2011 | Design by Syahnudin Syahden | Published by Ledisyah Template | Powered by Blogger.com.