Oleh :
Rony
Setiap zaman melahirkan generasi dengan ciri yang berbeda dengan zaman
yang liannya. Begitu pula setiap manusia yang hidup pada satu zaman
tertentu memiliki ciri khas tertentu pula untuk menandai zaman tersebut
dalam kelompoknya masing-masing. Begitu pula dengan yang dikatakan oleh
Foucault bahwa “setiap zaman memiliki keteraturan appriori pengetahuan
sendiri-sendiri hingga menjadikan sebuah zaman memiliki karakter yang
berbeda dengan zaman lainnya” (dalam Suyono, 2002: 150). Dengan
perbedaan karakter tesebut kita dapat memahami dan menggambarkan setiap
tahap perkembangan dari zaman-zaman yang telah berlalu. Di zaman ini
setiap orang/individu memiliki kebebasan untuk menciptakan ciri atau
warna hidupnya sendiri dan bukan lagi mengacu pada masing-masing
kelompoknya. Mulai dari ciptaan dan kreasinya sendiri sampai pada
peniruan dari orang yang di idolakan atau gaya hidup yang lagi trend
bahkan sampai meniru apa yang dilakukan oleh orang yang diidolakan.
Itulah
wujud ekspresi hidup dari setiap manusia yang ada pada saat ini.
Ekspresi yang diwujudkan melalui segala sesuatu yang digunakan sampai
pada kegiatan yang dilakukan untuk kehidupannya sehari-hari, mulai dari
olah kata yang dikeluarkan dari mulutnya, tempat tinggal, makanan, dan
pakaian yang dikenakan, sampai pada memperlakukan tubuhnya sendiri.
Bentuk ekspresi yang dimunculkan tersebut, mengupayakan dirinya untuk
meraih sebuah nilai yang dilemparkan oleh audiens (masyaralat luar)
seperti nilai estetis (cantik, indah, gagah, dan sebagainya), begitu
juga nilai-nilai lainnya yang ingin dicapai sehingga memunculkan
pencitraan bagi dirinya sendiri.
Tato Merupakan Sebuah Ekspresi.
Banyak
cara yang bisa kita lakukan untuk mengaktualisasikan sebuah ekspresi,
salah satu dengan menjadikan tubuh sebagai medianya. Jika hari ini kita
memandang arti dari tubuh yang kita bawa ini, bukan lagi menjadi sesuatu
yang menakutkan atau yang dianggap potensial berbahaya dan perlu selalu
diawasi, tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati,
sesekali memang dapat rusak, tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan
atau diperbaiki (Juliastuti : 1999). Kini tubuh tidak lagi hanya untuk
dirawat ataupun dijaga agar tak terluka. Tubuh yang kita miliki sudah
menjadi media untuk mengaktualisasikan hasil kreasi dari setiap ekspresi
layaknya selembar kanvas yang digunakan oleh pelukis untuk dipolesi cat
warna-warni sampai dengan sengaja untuk dilukai seperti pada saat
membuat tato dan tindik (percing) dan banyak lagi perlakuan-perlakuan
lain sehingga membentuk identitas pada dirinya sendiri.
Ekspresi
inilah yang dimunculkan oleh tato pada tubuh, menjadikan tubuh sebagai
media, dilukai dan diberi warna sampai menarik bagi pemilik tubuh
tersebut.
Perjalanan Tato di Indonesia
Sebagai sebuah bentuk dari
ekspresi, tato juga merupakan sebuah karya seni yang tertua didunia.
Dimana tato sudah dipraktikkan oleh beberapa suku didunia semenjak
ribuan tahun yang lalu. Tato tato digunakan untuk penunjukan sebuah suku
atau membedakan satu suku dengan suku lainnya dan status seseorang
dalam kelompoknya. Tato juga dapat memberikan penjelasan kepada orang
lain untuk melihat kedewasaan dan menunjukkan keahlia/pekerjaan bagi
pemilik tato. Bagi masyarakat Mentawai, tato memilikiki banyak makna,
tanda dan simbol (Pujileksono, 2006 : 160). Dari tato yang ditorehkan
pada tubuh mereka, akan dengan mudah mengenali orang tersebut mulai dari
status sosialnya, perkerjaan dan prestasi yang pernah ia peroleh.
Kalau
dulu tato merupakan sebuah simbol budaya dari kelompok tertentu dengan
proses ritual yang bersifat magis dan sakral, maka kini tato bukan lagi
milik dari kelompok tertentu atau suatu penandaan dari budaya tertentu
lagi, tato kini sudah menjadi konsumsi kalangan banyak yang tak lagi
melalui proses ritualisasi dan memiliki nilai sakralitas.
Di
Indonesia sejarah tentang tato juga pernah dikenal melalui Suku
Mentawai, Suku Dayak dan Bali. Pembuatan tato pada zaman dahulu masih
bersifat manual, menggunakan tulang binatang dan tintanya diambil dari
getah tumbuh-tumbuhan atau kulit pohon dengan racikan khusus. Membuat
tato tidaklah sesederhana dengan cara yang praktis (membuat begitu
saja), membuat tato memerlukan ritual-ritual khusus atau melakukan
hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang kebanyakan. Dikuil Shaolin
Cina, menggunakan gentong besi yang panas dengan gambar naga dan macan
disisinya kemudian di lekatkan pada pergelangan tangan sampai tercetak
gambar pada kulit. Suku mentawai menggunakan jarum yang bertangkai
jarum, kemudian dipukul degan pelan-pelang menggunakan kayu pemukul
sehingga zat pewarna dapat masuk kedalam kulit. Zat pewarna yang
digunakan merupakan campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa (Adi
Rosa dalam Budiarti dkk, 2001). Kini membuat tato tak lagi menyakitkan
dan tidak memerlukan ritual khusus, mesin pembuat tato yang ada saat ini
parlor (studio/salon tempat untuk membuat tato) lebih memudahkan kita
untuk memiliki tato sesuai dengan yang diinginkan.
Tato yang dikenal
oleh masyarakat indonesia saat sudah mengalami beberapa fase perubahan
sejak awal kehadirannya. Tato yang pada awalnya memiliki rilai
religiusitas dan magis pada masyarakat tertentu dalam kelompok yang
tertentu pula, kemudian ketika rezim Orde Baru berkuasa, tato dianggap
identik dengan penjahat, gali yang dianggap dapat mengganggu ketentraman
masyarakat. Masa tersebut berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada
tahun 80-an yang dikenal dengan PETRUS (penembakan misterius), dimana
orang-orang yang memiliki tato dianggap sebagai penjahat yang mengacau
dan mengganggu ketentraman masyarakat, mereka yang memiliki tato, dengan
sengaja untuk ditembak sebagai treatmen atau tindakan tegas bagi mereka
untuk mengkodusifkan keamanan masyarakat (Juliastuti, 2000). Setelah
runtuhnya orde baru maka mulailah tato digunakan sebagai bentuk
perlawanan. Anggapan negatif masyarakat dan larangan memakai tato atau
merajah tubuh bagi beberapa ajaran agama bahwa tato itu haram dan dosa,
maka dengan stigma seperti itulah pemberontakan mulai muncul untuk
membebaskan diri terhadap tatanan nilai sosial, dari segala tabu yang
mengikat setiap manusia.
Setelah tato digunakan sebagai bentuk
pemberontakan terhadap tatanan-tatanan sosial yang ada, ketika tato
dianggap sebagai sesuatu yang buruk maka kini tato dianggap sebagai
sesuatu yang modis dan trendi. Sudah banyak kalangan yang menggunakan
tato tidak merasa risih ataupun malu, malahan sengaja untuk
diperlihatkan kepada orang lain. Coba saja untuk berkunjung ke mall,
club malam atau di ruang-ruang publik lainnya, anda akan mendapatkan
orang-orang yang memakai tato dibagian-bagian tubuhnya yang sangat jelas
kelihatan bahkan ada juga yang ditempatkan pada bagian tubuhnya yang
sensitif tapi sedikit sengaja untuk diperlihatkan. Artis cantik Ratu
Felisha, Rebecca Tumewu sampai komedian yang pernah bermain dalam acara
Extrvaganza di Trans TV yaitu Tora Sudiro dan banyak lagi para selebriti
dan entertainer lainnya yang muncul dilayar kaca mempertontonkan totto
yang melekat ditubuhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Pujileksono, Sugeng. 2006. “PETUALANGAN ANTROPOLOGI: Sebuah Pengantar Ilmu Antropologi”. UMM Press. Malang.
Suyono,
Seno Joko. 2002. “TUBUH YANG RASIS: Telaah Kritis Michel Foucault Atas
Dasar-Dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa”. Yogyakarta. Lanskap
Zaman dan Pustaka Pelajar.
Internet :
Budiarti, Rita Triana,
dkk. ”TATO, PERJALANAN PURBA ORNAMEN ABADI”. Gatra Nomor 20, Beredar
Senin 2 April 2001],
http://www.geocities.com/tattoosind/seni-tattoo.htm). Diakses pada
tanggal 8 Januari 2009, pukul 14.02.
Juliastuti, Nuraini. 1999.
“STUDI TUBUH”. http://kunci.or.id/esai/nws/01/studi _tubuh.htm. Termuat
di newsletter KUNCI No. 1 Juli 1999. Diakses pada tanggal 8 Januari
2009, pukul 14.29.
___________. 2000. “TUBUH YANG MENDUA”.
http://kunci.or.id/esai/nws/0607 /tubuh.htm. Termuat di newsletter KUNCI
No. 6-7 Mei dan Juni 2000. Diakses pada tanggal 8 Januari 2009, pukul
14.22.
LINK AFFILIATE